Visi Pembangunan Ekonomi Indonesia 2025 disusun dengan sasaran kenaikan nilai nominal produk domestik bruto dari 800 miliar dollar AS saat ini menjadi 3,8 triliun-4,5 triliun dollar AS. Ini dimungkinkan dengan memperkuat program pengembangan koridor ekonomi Indonesia yang akan membagi wilayah domestik ke dalam enam kawasan pusat pertumbuhan.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan hal tersebut di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (12/2/2011), saat menyampaikan kuliah umum "Peluang dan Tantangan Ekonomi dan Geo-politik Indonesia" di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB). Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari serangkaian kegiatan di ITB terkait dengan tinjauan bioetika dalam penggunaan dan perkembangan senjata biologis di Indonesia.
Menurut Hatta, dengan nilai nominal produk domestik bruto tersebut dan memperhitungkan jumlah penduduk Indonesia, pendapatan per kapita pada 2025 akan mencapai 12.900-16.100 dollar AS.
"Akan tetapi, yang paling esensial bukan hanya angka makronya, tetapi juga kualitas dari peningkatan ekonomi," ujarnya.
Untuk mendorong Visi Pembangunan Ekonomi Indonesia 2025 itu, pemerintah telah menetapkan 8 program utama dan 18 aktivitas ekonomi. Kedelapan program utama yang akan didorong itu adalah industri, pertambangan, pertanian, kelautan, pariwisata, telekomunikasi, energi, dan pengembangan kawasan.
Dalam program industri, kata Hatta, terdapat enam aktivitas ekonomi utama, yakni pengembangan industri baja, makanan dan minuman, industri tekstil, mesin dan peralatan transportasi, industri perkapalan, serta pengembangan food estate. Dalam program pertambangan ada tiga aktivitas utama, yakni pengembangan pengolahan nikel, pengolahan tembaga, dan pengolahan bauksit. Adapun pada program pertanian ada aktivitas pengembangan kelapa sawit dan karet.
"Mengapa menggunakan koridor ekonomi? Karena sangat tepat mengandung beberapa unsur kunci yang memadukan secara integral pendekatan wilayah dengan pendekatan sektoralnya," kata Hatta.
